Selasa, 22 Februari 2011

Hakikat dan Asas Pengabdian kepada Masyarakat

(tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel yang berjudul ”Sejarah Sosial Pengabdian kepada Masyarakat” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com)

Kini sudah semakin diterima bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah “pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni langsung kepada masyarakat secara melembaga melalui metodologi ilmiah sebagai tanggungjawab luhur perguruan tinggi dalam usaha mengembangkan kemampuan masyarakat sehingga dapat mempercepat tercapainya tujuan pembangunan nasional” (Slamet, 1986).

Konsepsi luas pengabdian kepada masyarakat sebagai pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dapat meliputi pengertian-pengertian sebagai berikut:

Pertama, penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai produk yang seyogianya dan dimanfa­atkan oleh masyarakat. Kegiatan ini merupakan pendidikan non-formal pada masyarakat luas melalui kegiatan pendidikan dan latihan, kursus-kursus, lokakarya, seminar, simposium, pameran dan melalui media komunikasi massa. Kegiatan yang bersifat edukatif ini dapat menunjang perkembangan masyarakat gemar bela­jar (learning society) dan pendidikan berkesinam­bungan (continuing education) selaras dengan asas pendidikan seumur hidup (lifelong education).

Kedua, penerapan ilmu pengetahan, teknologi, dan seni yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta tuntutan pembangunan. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sebagai tanggungjawab yang luhur perguruan tinggi dalam usaha mengembangkan kemampuan masyarakat agar masyarakat sendiri melalui kegiatan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni pada masyarakat selain untuk memperoleh manfaatnya juga untuk mengetahui kesahihan dan ketepatan suatu teori, generalisasi serta konsep-konsep ilmiah.

Ketiga, pemberian bantuan keahlian pada masyarakat dalam memecahkan masalah pembangunan. Keterlibatan pergu­ruan tinggi secara aktif untuk membantu masyarakat dalam proses pembangunan, atas dasar kesadaran dan tanggungjawab profesional, bahwa dalam masyarakat masih kekurangan tenaga ahli yang ter­didik dan terlatih. Para sarjana, cendekiawan, tenaga ahli, dan para mahasiswa yang ada pada Perguruan Tinggi harus dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat demi keberhasilan pembangunan.

Keempat, pengembangan hasil-hasil penelitian yang menurut hasil penelaahan perguruan tinggi dapat diman­faatkan untuk kepentingan masyarakat dan pemba­ngunan sehingga hasil-hasil penelitian tersebut dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat dan pem­bangunan.

Pelaksanaan darma pengabdian kepada masyarakat secara ilmiah sesuai dengan martabat perguruan tinggi disam­ping harus dilandasi filsafat dan arah serta tujuan yang jelas, juga harus berpegang pada asas-asas dan metoda ilmiah yang memungkinkan dikembangkannya prog­ram-program pengabdian kepada masyarakat secara inovatif serta relevan dengan tantangan kebutuhan dan permasalahan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.

Adapun asas-asas yang seharusnya dipergunakan dalam melaksanakan setiap program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan landasan kesejarahan, ideal filosofis, dan judisial tersebut adalah seba­gai berikut:

Pertama, asas kelembagaan. Program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus dilaksanakan secara melembaga. Asas kelemba­gaan yang dimaksud merupakan tata nilai, norma dan pengorganisasian yang dianut oleh perguruasn tinggi di Indonesia sebagai satu sistem. Penyelenggaraan setiap program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Universitas dapat pula dilaksanakan baik oleh perorangan maupun oleh kelompok sivitas aka­demika yang pada hakikatnya adalah atas nama lemba­ga, yakni perguruan tinggi yang bersangkutan seba­gai lembaga ilmiah. Karena itu setiap pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, norma­tif, organisasitoris, serta administratif oleh unsur-unsur pimpinan maupun keseluruhan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Kedua, ilmu amaliah dan amal ilmiah. Landasan ideal dan filosofis Pancasila, epistimolo­gis serta etika ilmu pengetahuan seharusnya menji­wai serta menjadi motivasi untuk mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dibina dan dikembangkan oleh perguruan tinggi sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Niat dan moti­vasi yang murni ialah secara ikhlas untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat dengan mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang telah dikua­sainya, bukan karena kepentingan pribadi ataupun mencari keuntungan materi.

Ilmu-amaliah tersebut sebagai perwujudan tanggungjawab luhur dan kepekaan sosial sivitas akademika terhadap masalah-masalah yang timbul dalam masyara­kat untuk membantu masyarakat dengan ilmu pengeta­huan, teknologi, dan serii sehingga masyarakat lebih meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian sivitas akademika sebagai kelompok pemikir dan pengabdi masyarakat secara aktif berinisiatif, kreatif atau inovatif berlomba-lomba berbuat kebajikan dalam mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diperlukan oleh masyarakat dan pembangunan. Sehubungan dengan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh sivitas akademika sebagai masyarakat ilmiah, maka seharusnya merupakan amal ilmiah, artinya menggunakan metodologi ilmiah baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya sebagai salah satu ciri utama. Dengan demikian tidak saja ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diterapkan, dikembangkan atau disebarluaskan pada masyara­kat benar-benar dirasakan manfaatnya, tetapi pelak­sanaan kegiatan tersebut secara teknis, ekonomis, sosial, etis dan politis dapat dipertanggungjawab­kan sebaik-baiknya.

Ketiga, asas kerjasama. Pelaksanaan program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi sesungguhnya merupakan usaha bersama antara perguruan tinggi dan pihak-pihak masyarakat yang dibantu atau yang men­jadi mintra kegiatan. Kerjasama ini harus dijiwai semangat kekeluar­gaan dan gotong-royong, yang saling menunjang dan saling menguntungkan sehingga mencapai tujuannya, yakni hasilnya benar-benar bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Azas kerjasama hendaknya tercermin dalam lingkungan di dalam perguruan tinggi sendiri, antar perguruan tinggi maupun antar perguruan tinggi dengan masyarakat dalam arti luas. Setiap program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat mendayagunakan kemampuan sumber dan sumber daya yang ada di perguruan tinggi dan dalam masyarakat.

Keempat, asas kesinambungan. Program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi sebaiknya dilakukan secara berencana, sistematis, terpadu dan terarah serta berkesinambungan. Masyarakat akan berkembang sede­mikian rupa sejalan dengan perkembangan ilmu penge­tahuan, teknologi dan seni. Perubahan dan perkem­bangan masyarakat ke arah kemajuan memerlukan usaha sadar berencana dan proses pelak­sanaan secara bertahap dan berkesinambungan. Oleh karena itu program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebaiknya tidak dilakukan sekali selesai dan lalu ditinggalkan. Tetapi seharusnya menurut program dalam jangka waktu tertentu yang dapat diikuti tahap-tahap perubahan, kemajuan maupun kendala atau hambatannya untuk segera dapat diketa­hui tingkat keberhasilan dan kelemahannya melalui evaluasi serta kajian ulang baik terhadap proses maupun hasil akhir serta dampaknya. Dengan asas kesinambungan diharapkan pelaksanaan program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat me­nunjukkan hasil-hasilnya secara nyata.

Kelima, asas mendidik dan mengembangkan. Program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus men­cerminkannya sebagai lembaga pendidikan dan lembaga ilmiah. Sesuai dengan kedudukan, fungsi dan peran perguruan tinggi, maka peran yang sebaiknya ditampilkan oleh program dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ialah bersifat mendidik dan mengembangkan masyarakat. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi bersifat membantu masyarakat dan penanggungjawab serta pelaksana pembangunan, sehingga atidak lantas mengambil alih tugas-tugas masyarakat dan aparat pembangunan maupun tidak serba memberi kepada masyarakat. Asas mendidik dan mengembangkan harus diperhatikan, kare­na tujuan pengabdian kepada masyarakat oleh pergu­ruan tinggi bersifat membantu untuk mengem­bangkan kemampuan masyarakat agar mampu mandiri dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pembangunan dan menghadapi perubahan-peru­bahan secara lebih baik.

Perlu disadari bahwa sejalan dengan tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita, maka peranan yang diharapkan perguruan tinggi akan semakin penting artinya dalam rangka menun­jang keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. Sehubungan dengan itu, perlu ada pemi­kiran dan usaha secara konsepsional yang sepadan dengan harapan tersebut untuk memantapkan kemampuan pengabdian kepada masyarakat melalui metodologi ilmiah sehingga relevan dan berperan dalam menunjang keberhasilan pem­bangunan demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Walhasil, prakarsa untuk menggagas, membahas, merancang, dan akhirnya melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset integrasi ilmu harus dipandang sebagai usaha terus-menerus untuk menyegarkan dan meningkatkan tanggungjawab kemasyarakatan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pengabdian Cinta

Setiaku padamu
Tiada habis terlayani
Pengabdian janjiku
Segala ingin tercukupi

Aku jatuh cinta
Takdir aku hidup denganmu
Pengertian cinta
Sepanjang umurku
Aku jatuh cinta
Hidup ini indah karenamu
Menjalani cinta
Sehati denganmu, hidupku

Indah semua waktu
Bila adamu menyayangku
S'gala indah dirasa
Yakin abadi kisah kita

Tiada takut diriku
Bila di sampingmu
Ingin s'lalu selamanya bersamamu
Ingin kau ada di sini
menemani aku 

Kesehatan

Kesehatan

Push-up merupakan salah satu cara menjaga kesehatan
Untuk gampong di Aceh, lihat Kesehatan, Karang Baru, Aceh Tamiang.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
[1] Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
[2] Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.[3] Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
[3] Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek.[4] Golongan masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang.
[4] Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
[5]

Daftar isi

1 Kesehatan Menurut Undang-Undang
2 Tujuan Kesehatan Dalam Segala Aspek
2.1 Tujuan dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
2.2 Tujuan Pembangunan Kesehatan
3 Dasar-Dasar Pembangunan Kesehatan
4 Referensi
5 Pranala Luar
Kesehatan Menurut Undang-Undang

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:[6]
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna


Bila kita sehat kita akan menikmati hidup lebih indah
Tujuan Kesehatan Dalam Segala Aspek

Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangssa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup.[7] Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.[7]
Tujuan dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan dapat dibagi menjadi dua, secara umum dan secara khusus.[8] Tujuan dan ruang lingkup secara umum, antara lain:[8]
Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam menghadapi bencana alam atau wabah penyakit menular.
Adapun tujuan dan ruang lingkup secara khusus meliputi usaha-usaha perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, yang di antaranya berupa:.[8]
Menyediakan air bersih yang cukup dan memenuhi persyaratan kesehatan.
Makanan dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.
Pencemaran udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan, dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan menjadi penyebab terjadinya perubahan ekosistem.
Limbah cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, rumah sakit, dan lain-lain.
Kontrol terhadap arthropoda dan rodent yang menjadi vektor penyakit dan cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.
Perumahan dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.
Kebisingan, radiasi, dan kesehatan kerja.
Survei sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program kesehatan lingkungan
Tujuan Pembangunan Kesehatan
Untuk jangka panjang pembangunan bidang kesehatan diarahkan untuk tercapainya tujuan utama sebagai berikut:[9]
Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.
Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
Peningkatan status gizi masyarakat.
Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
Pengembangan keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Dasar-Dasar Pembangunan Kesehatan

Dasar-dasar pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah sebagai berikut:[9]
Semua warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal agar dapat bekerja dan hidup layak sesuai dengan martabat manusia.
Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat.
Penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat.

Nabi Muhammad SAW Teladan Seluruh Umat

Sesungguhnya pada diri Rasulullah (Muhammad) terdapat teladan yang baik.
(QS Al-Ahzâb [33]: 21)

Setidaknya, ada tiga pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok Muhammad, sang rasul penyebar agama Islam. Pertama, ketekunannya dalam melakukan ibadah. Kedua, kepeduliannya terhadap persoalan sosial. Ketiga, kehidupannya yang tidak diperbudak oleh nafsu duniawi.
Muhammad melakukan ritual ibadah, antara lain dengan shalat, zikir, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Dalam momen ibadah ritual, kita berusaha “berinteraksi” dengan Allah, Tuhan yang mengenggam alam semesta dan mengendalikan kehidupan. Dengan beribadah, kita memasuki keheningan dan terus-menerus memperbarui ikrar untuk meneguhkan ikatan batin kita dengan kehidupan.

Dalam momen ibadah ritual, seseorang juga berusaha mengasah ruang “batin” dan “ruhani”-nya terus-menerus agar bisa menapaki kehidupan secara lebih baik, indah, bijak, dan bermakna. Dengan beribadah pulalah, kita berusaha menyelami kesejatian untuk melampaui fenomena duniawi yang fana dan sementara. Kita saat ini menapaki “alam dunia”. Alam yang pernah kita lalui adalah “alam ruh” dan “alam rahim”, sementara dua lainnya yang akan kita jelang adalah “alam barzakh” dan “alam akhirat”.

Kembali pada persoalan ibadah ritual; karena setiap manusia dalam kesehariannya—sadar atau tidak—sering kali terpancing (lagi) untuk melakukan hal-hal yang buruk, jahat, dan tidak terpuji, maka ruang batin dan ruhaninya sebaiknya terus diasah dalam suasana yang tenang, khusyuk, dan hening. Nafsu-nafsu destruktif yang potensinya ada pada diri setiap manusialah yang harus terus-menerus dikendalikan, antara lain, dengan laku-laku ritual semisal shalat, zikir, puasa, dan haji.

Kalau kita cermati secara kritis, momen ritual pun sebenarnya menyimpan makna moral dan sosial yang cukup kental. Dalam Islam, ritual bukanlah hal yang steril dari persoalan sosial. Ritual, dengan demikian, bukan merupakan tindakan untuk menghindar  (eskapisme) dari persoalan sosial yang nyata dan mengelilingi kehidupan manusia setiap hari.

Sufi yang Peduli Sosial

Tak diragukan lagi, bercermin dari sejarah kehidupannya, Muhammad adalah sosok manusia yang terlibat aktif dalam persoalan sosial serta melakukan upaya transformasi sosial yang nyata. Kepedulian sosial Muhammad, antara lain tampak dari sepak terjangnya dalam membantu dan membela kaum miskin, sengsara, dan tertindas di satu sisi, serta melawan komunitas (baca: rezim politik dan ekonomi) yang otoriter dan zalim di sisi yang lain. Komunitas yang otoriter dan zalim ini misalnya adalah orang-orang Quraisy yang kaya dan berkuasa.

Muhammad juga sering mendamaikan beberapa komunitas (suku-suku Arab) yang bertikai satu sama lain. Visi sosial Muhammad sangat tampak dalam upaya menegakkan keadilan (sosial), kesetaraan, dan perdamaian.

Selain tekun melakukan ibadah dan punya kepedulian sosial, Muhammad juga seorang pribadi yang tidak pernah diperbudak oleh nafsu duniawi, semisal harta, kekuasaan, dan jabatan. Muhammad adalah sosok yang bersahaja. Meskipun mempunyai seorang istri yang kaya-raya bernama Siti Khâdijah serta cukup sukses sebagai seorang pedagang, Muhammad tidak pernah silau oleh materi.

Sosok zuhud dan sufi adalah orang yang mampu mengatasi dan mengendalikan “keinginan”-nya akan harta, kekuasaan, dan jabatan di satu sisi, serta tekun melakukan ibadah di sisi yang lain. Ibadah ini sangat penting bagi setiap umat Islam, sebagai upaya untuk menziarahi ruang batin dan ruhani serta mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.

Kesufian yang diteladankan Muhammad bukanlah sufi yang “eskapis” (lari dari kenyataan), yakni sibuk melakukan ritual tetapi tidak peduli sosial, melainkan sufi yang taat beribadah sekaligus sangat peduli dan peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Sama seperti nabi-nabi lainnya yang pernah muncul dalam sejarah, Muhammad adalah sosok revolusioner yang mencoba mengubah tatanan sosial yang timpang, tidak adil, dan menindas.

Melalui syariat dan ajaran agama yang disebarkannyalah Muhammad dan nabi-nabi lainnya mampu mewujudkan tatanan sosial yang adil, setara, demokratis, manusiawi, dan beradab. Untuk itu, tampaknya tak terelakkan, dalam perjalanan hidupnya para nabi sering kali melawan para penguasa yang zalim, otoriter, dan menindas. Nabi Ibrahim melawan raja Namrud, Nabi Musa melawan raja Firaun, Nabi Isa melawan para penguasa Romawi, serta Nabi Muhammad melawan para penguasa Quraisy dan suku-suku Arab lainnya yang arogan dan zalim.

Teladan Empat Nabi Legendaris

Ibrahim, Musa, Isa, dan (terutama) Muhammad (sang empat nabi legendaris) adalah para sufi besar yang mampu mengekspresikan tiga hal dalam diri mereka, sebagaimana saya sebut dalam awal tulisan ini; yaitu, tekun beribadah, peduli sosial, serta tidak diperbudak oleh nafsu duniawi. Nafsu duniawi yang dimaksudkan di sini adalah keinginan (yang berlebihan) akan harta, kekuasaan, dan jabatan duniawi.

Kalaupun pernah mempunyai harta dan materi dalam jumlah yang cukup besar, maka Muhammad adalah contoh seorang pribadi yang kaya dan selalu berusaha mendermakan kekayaannya untuk kepentingan orang banyak yang membutuhkan. Selain itu, kekayaan Muhammad juga untuk mendanai jihad dan perjuangan menuju sistem sosial yang adil, demokratis, dan manusiawi.

Seorang sufi yang kaya—sebagaimana pernah diteladankan Muhammad—seyogyanya bertekad memanfaatkan kekayaannya untuk sebanyak mungkin manusia. Harta benda sang sufi berguna dan berkah bagi masyarakat luas. Untuk itu, citra sufi sebenarnya tidak identik dengan kemiskinan, keprihatinan, dan hidup pas-pasan. Seseorang tentu saja sangat sah menjadi kaya, asalkan memeroleh kekayaan dengan cara yang baik, sehat, dan halal. Kekayaannya pun menjadi berkah dan berfaedah untuk sebanyak mungkin manusia.

Hanya orang yang mampu secara ekonomilah yang bisa menunaikan rukun iman kelima, yakni ibadah haji. Hanya orang yang (cukup) kayalah yang bisa membantu rakyat miskin dan kaum papa yang terpuruk. Hanya orang kayalah yang mampu mendermakan harta bendanya guna mendanai “perjuangan” di jalan Allah yang baik dan mulia.

Bercermin dari sosok Muhammad, kita seharusnya tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu “melampaui” nafsu dan kesenangan duniawi yang acapkali menjebak dan menjerumuskan. Selain itu, jauh lebih penting lagi kita sebaiknya punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap persoalan kehidupan dan umat manusia di sekitar kita, baik pada level lokal, nasional, dan syukur bisa menyentuh level internasional.

Kepedulian sosial dalam konteks Indonesia sekarang yang relevan, antara lain memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan kemaslahatan di satu sisi, serta melawan korupsi, kekerasan, penindasan, dan kezaliman pada sisi yang lain.

Dengan meneladani sosok Muhammad, marilah kita teguhkan diri kita untuk berhijrah, yakni berpindah dan berubah, misalnya dari kondisi yang pasif  menuju tindakan aktif untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, adil, indah, dan maslahah.[]

Kompetisi

Kompetisi adalah kata kerja intransitive yang berarti tidak membutuhkan objek sebagai korban kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against (melawan), over (atas), atau with (dengan). Tambahan itu pilihan hidup dan bisa disesuaikan dengan kepentingan keadaan menurut versi tertentu.
Menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi.
Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama.
Kompetisi dalam istilah biologi berarti persaingan dua organisme atau lebih untuk mendapatkan kebutuhan hidup mereka. Berdasarkan kebutuhan tersebut kompetisi dibagi menjadi:
(1) Kompetisi teritorial yaitu kompetisi untuk memperebutkan wilayah atau teritori tempat tinggal organisme, hal ini berkaitan dengan kompetisi selanjutnya.
(2) Kompetisi makanan yaitu kompetisi untuk memperebutkan mangsa atau makanan dari wilayah-wilayah buruan.

Kompetisi juga dapat dibagi menjadi:
(1) kompetisi internal adalah kompetisi pada organisme dalam satu spesies dan
(2) kompetisi eksternal adalah kompetisi pada organisme yang berbeda spesiesnya. Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi salah satu pihak organisme atau bahakn berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan dengan mengurangi ledakan populasi hewan yang berkompetisi.

Sistem kompetisi

Sistem kompetisi adalah sistem pertandingan yang dipakai dalam suatu turnamen, biasanya olah raga, yang mempertemukan setiap peserta dengan peserta lainnya secara lengkap. Sebagai contoh, dalam suatu turnamen dengan delapan peserta, setiap peserta akan bertemu/bertanding dengan tujuh peserta lainnya.
Sistem kompetisi yang paling umum dipakai adalah sistem kompetisi penuh dan sistem setengah kompetisi. Dalam kompetisi penuh (bahasa Inggris: double round-robin), setiap peserta akan bertemu dengan peserta lainnya dua kali, biasanya satu pertemuan sebagai tuan rumah ("pertandingan kandang") dan satu pertemuan sebagai tamu ("pertandingan tandang"). Dalam sistem setengah kompetisi (round-robin), setiap peserta akan bertemu dengan semua peserta lainnya satu kali. Sistem kompetisi penuh dipakai dalam banyak kompetisi liga olah raga penting, seperti sepak bola dan bola basket. Sistem setengah kompetisi biasanya dipakai dalam suatu babak penyisihan suatu turnamen, yang sering kali dilanjutkan dengan sistem gugur.
Suatu turnamen setengah kompetisi dengan empat peserta diistilahkan dengan "quad".

Rahasia Karyawan Teladan? Istirahat Makan Siang

KOMPAS.com — Pekerjaan yang menggunung, seakan tak ada habisnya, dan takut tak bisa menyelesaikan tepat waktu membuat Anda pun menggunakan waktu istirahat untuk bekerja. Kalau perlu, makan di meja kantor saja supaya bisa lanjut bekerja. Harapannya, si bos bisa melihat betapa kerasnya Anda bekerja. Tetapi, jangan salah, hal ini bisa jadi bumerang untuk Anda. Alhasil, malah membuat Anda tidak mendapatkan posisi yang diincar. Padahal, seandainya Anda tahu, istirahat makan siang justru bisa menjadikan Anda karyawan yang lebih baik. Apa kaitannya?

Sebuah survei yang dilakukan oleh Right Management dan LinkedIn menunjukkan bahwa kurang dari setengah responden yang mengatakan bahwa mereka selalu menggunakan waktu istirahat siangnya jauh dari meja kerjanya. Sisanya? Sebanyak 20 persen makan di meja, 13 persennya bahkan mengatakan tidak pernah makan siang sama sekali. Alasannya? Supaya bisa kerja lebih cepat. Tetapi, para ahli memperingatkan, tren semacam ini justru berbahaya.

"Dari sisi produktivitas, ada kerugian saat Anda memaksa otak untuk bekerja keras terus-menerus selama 8 jam sehari. Ketika para karyawan melewatkan waktu makan siang setiap hari, mereka secara tidak sadar akan mengalami keletihan dan burnout. Keletihan ini menumpuk sedikit demi sedikit, hingga satu titik, mereka merasa sudah tidak lagi antusias untuk bekerja di tempatnya," jelas dr Janet Scarborough Civitelli, psikolog di Vocationvillage.com.

Sementara dari kacamata kebugaran dan stres, "Bagaimana cara kita menggunakan waktu istirahat, khususnya makan siang, memiliki dampak yang (sadar atau tidak) besar dalam cara kita menghadapi sisa hari. Ini berkaitan dengan cara menggunakan energi sebijak mungkin untuk membantu kita menikmati ritme hidup. Kita tahu bahwa pencernaan kita perlu waktu untuk bekerja dengan baik. Kita tahu tubuh kita butuh rehat sejenak di tengah-tengah situasi yang penuh tekanan untuk mengisi kembali dayanya dan kemampuan fokus kembali. Kita juga tahu, banyak orang di luar sana berjuang keras untuk bisa memiliki waktu istirahat, yang sering kali kita lewati itu," ungkap Beverly Beuermann-King, ahli kebugaran dari Little Britain, Kanada.

Diperkirakan, saat waktu makan siang, otak kita tak selalu memikirkan tentang pekerjaan meski kita masih berada dalam lingkup kantor. Hal ini akan memberikan waktu dan ruang untuk otak bernapas. Dengan demikian, ketika kita kembali bekerja, otak jadi lebih segar, ide-ide pun bisa lebih mengalir.

Untuk mereka yang jarang menggunakan waktu istirahat makan siangnya, Beverly Beuermann-King merekomendasikan aktivitas-aktivitas berikut ini:

* Berjalan kaki sejenak.
* Merasakan sedikit sinar matahari.
* Berbincang dengan teman.
* Tidur siang sebentar.
* Makan makanan utama atau camilan yang sehat.
* Melakukan sedikit peregangan.
* Melakukan permainan mental yang menantang.

Ide-ide lain:
* "Empat hari dalam seminggu, saya ikut kursus bahasa asing. Saya menjadi siswa lagi, dan saya sangat menyukainya." - Kristen Keener, direktur media relations di Goucher College, Baltimore, Md.

* Steve Weinstein, direktur public relations di Milwaukee, Wisconsin, membawa sepeda di bagian belakang mobilnya setiap hari. Di waktu istirahatnya, ia suka naik sepeda berkeliling lingkungan tempat kerjanya. Menurutnya, ini adalah pereda stres yang menyenangkan.

* "Saya mengunjungi tempat penitipan anak saya. Hanya menggendong dan menghabiskan sejenak waktu saya bersamanya membantu mengembalikan semangat." - Rebecca Tompkins, direktur komunikasi.

Award atau Penghargaan

award
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Artikel ini adalah tentang pengakuan formal. Untuk kegunaan lain, lihat Award (disambiguasi).

Artikel ini sebagian besar atau mengandalkan sepenuhnya pada satu sumber. Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan memperkenalkan kutipan yang tepat untuk sumber-sumber tambahan. (Juni 2009)
Cari awarddi Wiktionary, kamus gratis.


Beberapa piala yang diterima oleh unit NJROTC Port Charlotte High School.
awardadalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk mengenali keunggulan dalam bidang tertentu, sebuah sertifikat keunggulan. awardtersebut ditandai dengan piala, judul, sertifikat, plakat peringatan, medali, lencana, pin, atau pita. Sebuah awarddapat membawa hadiah moneter yang diberikan kepada penerima, misalnya, Hadiah Nobel untuk kontribusi kepada masyarakat atau awardPulitzer untuk prestasi sastra. Sebuah awardmungkin juga hanya menjadi pengakuan publik keunggulan, tanpa nyata token atau hadiah.
awarddapat diberikan oleh setiap orang atau lembaga, meskipun prestise awardbiasanya tergantung pada status awarder tersebut. Biasanya, awardyang diberikan oleh sebuah organisasi beberapa macam, atau oleh kantor seorang pejabat dalam suatu organisasi atau pemerintah. Misalnya, sebuah kutipan presiden khusus (seperti yang diberikan oleh Presiden Amerika Serikat) adalah sebuah pengumuman publik memberikan tempat resmi kehormatan (misalnya, Presiden Ronald Reagan memberikan kutipan khusus presiden pada tahun 1984 ke Disney Channel untuk televisi anak-anak sangat baik's pemrograman.)
Orang yang telah memenangkan awardbergengsi tertentu, seperti Hadiah Nobel, gelar juara dalam olahraga, atau Academy Award (Oscar), dapat memiliki awardmenjadi identitas mereka, kemudian yang dikenal terutama untuk memenangkan awardini, bukan untuk setiap lain prestasi atau pekerjaan.
awardMock, yang biasanya mengakui kegagalan atau prestasi atipikal, juga populer. [1] Mereka biasanya diberikan oleh orang-orang dan organisasi prestise yang lebih rendah atau rata-rata, seperti organisasi lucu dan penulis individu. awardPopuler mengejek meliputi:
Golden Raspberry Awards (Razzies), counterpart satir untuk Academy Award yang mengakui akting terburuk, penulisan naskah, penulisan lagu, mengarahkan, dan film bahwa industri film yang ditawarkan
Ig Nobel, counterpart satir untuk Hadiah Nobel, diberikan untuk prestasi yang "pertama membuat orang tertawa, dan kemudian membuat mereka berpikir."
Darwin Awards, "diberikan kepada orang-orang yang terlihat memperbaiki kolam gen manusia dengan tidak sengaja membunuh atau mensterilkan diri selama kesalahan bodoh atau ceroboh."
Salah satu jenis umum dari awarddi Amerika Serikat adalah Karyawan awardBulan, dimana biasanya nama penerima terdaftar di tempat yang menonjol dalam bisnis selama bulan tersebut. Sebuah awardmengolok-olok umum adalah sendok kayu, yang diberikan kepada individu atau tim yang telah datang terakhir dalam sebuah kompetisi.
Beberapa awarddiberikan hanya setelah biaya dibayar oleh penerima, seperti Design Award Jerman.