Selasa, 22 Februari 2011

Pengertian Perawat

Perawat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Seorang perawat sedang bekerja di rumah sakit.
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati.
Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu (The Lady With The Lamp) atas jasa-jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang Krimea, di semenanjung Krimea, Rusia.

Perawat bekerja dalam berbagai besar spesialisasi di mana mereka bekerja secara independen dan sebagai bagian dari sebuah tim untuk menilai, merencanakan, menerapkan dan mengevaluasi perawatan. Ilmu Keperawatan adalah bidang pengetahuan dibentuk berdasarkan kontribusi dari ilmuwan keperawatan melalui peer-review jurnal ilmiah dan praktik yang dibuktikan berbasis. Ini merupakan bidang yang dinamis praktik dan penelitian yang didasarkan dalam budaya kontemporer dan kekhawatiran itu sendiri dengan baik mainstream dan subkultur terpinggirkan dalam rangka untuk memberikan perawatan budaya paling sensitif dan kompeten.


Dokter
Bidan
Rumah Sakit
Puskesmas
Pranala luar

Asosiasi Perawat Indonesia
Asosiasi Perawat Amerika
Asosiasi Perawat Kanada
Nursing Documentation & Expressions Project
National Council of State Boards of Nursing (USA)
NMAP The UK’s Gateway to high quality Internet resources for Nurses, Midwives and Allied Professions

Perawat Kesehatan Bisa Buka Praktek Mandiri Seperti Dokter dan Bidan

Perawat kesehatan pada era sekarang ini, tidak lagi identik dengan pembantu dokter seperti masa lalu. Eksistensi dan kredibilatasnya, diakui berbagai kalangan telah maju dan berkembang menjadi kelompok profesional. Tenaga keperawatan sekarang, tidaklah beda dengan profesi seorang bidan atau dokter, bisa membuka tempat praktek pelayanan perawatan kesehatan. Bahkan sekarang, banyak sudah yang menyandang sarjana S1 atau Doktor.
Hal ini disampaikan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Bandung, Wawan Hernawan S.Pk ketika silaturahmi dan audiensi dengan Walikota Bandung, H. Dada Rosada SH, M.Si, di Bumi Kitri, Jalan Cikutra Bandung, Kamis (13/3/09). Dihadiri Ketua Komisi D DPRD, Drs. H. Kadar Slamet dan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandung, dr. H. Gunadi S Bhinekas.
Wawan menuturkan, anggota PPNI Kota Bandung saat ini beranggotakan lebih dari 3.500 orang tersebar di rumah-rumah sakit pemerintah, swasta, TNI, Polri, Puskesmas dan lembaga-lembaga pendidikan keperawatan, 90 % diantaranya telah berkeluarga.
"Ini merupakan potensi yang dapat membantu kebijakan pembangunan Pemkot sebagai tenaga promosi kesehatan, memajukan, mengembangkan dan memantapkan Bandung Sehat 2007 karena visi dan misi PPNI selaras ,” kata Wawan yang merasa bangga, profesi keperawatan di Indonesia sekarang, telah mendapat perhatian besar dari Pemerintah Pusat, dengan adanya kotak tersendiri pada salah satu Dirjen di Departemen Kesehatan RI.
Walikota mengatakan, dalam perspektif makro, aspek kesehatan merupakan modal berharga menjadikan manusia memiliki harkat, derajat dan martabat. Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar, selain pendidikan, sandang dan perumahan. Kesehatan menjadi salah satu indikator Indeks pembangunan Manusia (IPM).
Untuk tercapainya sasaran dan target pembangunan bidang kesehatan ini, dikatakan walikota, diperlukan kesadaran kolektif masyarakat, yang secara sadar, mandiri dan terorganisir dapat melakukan upaya meningkatkan derajat kesehatannya disamping peran Pemkot sendiri melakukan terobosan dalam pelayanan kesehatan.
Walikota yakin, usaha pembangunan kesehatan di Kota Bandung akan lebih efektif, jika didukung segenap elemen masyarakat termasuk PPNI. Diharapkan menjadi agen penggerak untuk meningkatkan kualitas dan derajat kesehatan masyarakat, melalui aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Eksistensi PPNI ditengah masyarakat, dikatakan walikota, selain ditentukan seberapa besar rasa bangga dan komitmen anggota menjalani profesi dengan baik, tapi juga harus mampu menjalin kerjasama dengan organisasi lain termasuk dengan Pemkot.

Bolehkah Bayi Diberi Obat Bebas?

Tentu kita boleh saja menggunakan obat bebas untuk mengatasi sakit si kecil, terutama bila si kecil usianya sudah 6 bulan ke atas. Biasanya obat bebas dibagi 2, yaitu obat luar dan obat telan. "Umumnya, obat luar berupa cairan, salep atau ointment yang digunakan untuk mengatasi luka, bentol-bentol, gatal, atau lainnya," terang dr. Waldi Nurhamzah SpA.
Adapun obat luar bebas yang paling sering dipakai adalah obat antiseptik untuk luka (merkurokrom, boorwater, rivanol, povidone iodine) dan minyak penghangat seperti minyak telon atau minyak tawon. Namun kita harus hati-hati dalam pemberiannya. Perhatikan, apa ada reaksi yang timbul setelah pemberian berupa kemerahan, bentol-bentol, atau lainnya. Soalnya, bisa saja, kan, si kecil tak tahan terhadap obat luar itu.
Sebenarnya, lanjut Waldi, tak banyak obat luar yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Misal, obat oles yang mengandung steroid, "sangat ampuh memberantas gatal, eksim, dan beberapa reaksi alergi pada kulit. Namun karena sifat kerasnya, obat luar yang mengandung steroid hanya boleh diperoleh dengan resep saja." Contoh obat ini antara lain Apolar, Benoson, Decoderm, Elocon, Lox, Kenacort, Locoid, Synalar.
Bila obat tersebut dioleskan pada kulit bayi, sebagian obat akan terserap oleh tubuh bayi hingga dapat meningkatkan konsentrasi obat yang tak wajar dalam tubuh bayi. Selain itu, dapat pula terlihat reaksi kulit terhadap obat semisal kulit yang diolesi salep tampak keputihan.
Obat luar lain yang juga perlu resep tapi kerap dipakai serampangan ialah antibiotik. Ini berbahaya. Bila si kecil sensitif pada salep itu, reaksi yang terjadi akan berbahaya. Misal, salep yang mengandung penisilin, tetrasiklin, gentamisin, neomisin. "Jika diberikan pada bayi atau anak yang tak tahan, akan timbul reaksi hebat." Meski cuma dioleskan sedikit, reaksinya bisa fatal, lo.
Obat telan
Untuk obat telan, yang paling pas buat bayi tentulah berupa sirup. Selain lebih mudah menakarnya, cara menyimpannya juga tak sulit; biasanya tak perlu disimpan di lemari es, cukup dalam suhu kamar.
Bila kita ke dokter, mungkin masih ada beberapa dokter yang memberikan obat dalam bentuk puyer untuk bayi. Namun jenis obat bebas telan yang dapat diberikan pada bayi amat terbatas. Umumnya obat pereda panas, obat batuk dan pilek, serta larutan rehidrasi.
Penting diketahui, obat bebas ditandai lingkaran hijau pada kemasannya. Dalam banyak buku petunjuk penggunaan obat, jenis ini diklasifikasikan sebagai jenis B, hampir terdapat pada semua obat pereda panas. Ada pula beberapa obat yang ditandai lingkaran biru, artinya obat ini masih boleh diperoleh dengan bebas tapi dalam jumlah terbatas. Kebanyakan obat bebas untuk pereda batuk/pilek termasuk dalam golongan ini.
Yang bikin bingung, saat ini banyak obat bebas dengan berbagai merek ditawarkan. Nah, mana yang harus dipilih? Menurut Waldi, sesuaikan yang rasanya disukai si kecil. Jadi, kita bisa pilih merek apa saja asalkan sesuai selera si kecil; entah dengan rasa stroberi, jeruk, anggur, atau lainnya.
Yang penting diperhatikan obat itu memang boleh diberikan untuk usia bayi/anak. Jangan lupa, lihat tanggal kadaluarsanya. Setelah obat diperoleh, selalu baca lebih dulu catatan penjelasan yang terlampir dalam kemasan. Di situ tertera antara lain dosis dan jadwal pemberian serta efek sampingnya.
Bila si kecil tak jua sembuh setelah diberi obat, jangan langsung ganti obat karena tak ada obat bebas yang bisa menghilangkan penyakit dengan seketika. Bukankah semua obat butuh proses untuk menyembuhkan? Misal, si kecil panas. Sudah dua kali diberi obat A tapi belum juga turun, lalu diganti obat B ternyata langsung turun. Jangan buru-buru bilang obat B manjur sementara obat A tak manjur. Pasalnya, kebetulan panas si kecil memang sudah waktunya turun ketika diberikan obat B.
Lagi pula, bisa terjadi si kecil tak kunjung sembuh lantaran obatnya diberikan dengan dosis yang salah. Misal, si kecil yang baru berusia 5 bulan punya badan agak besar untuk anak seusianya. Berarti, dosis yang tertera di brosur dengan kalimat "untuk bayi di bawah 6 bulan" tentu enggak pas bila diberikan kepadanya. Nah, untuk tahu dosis yang tepat, si kecil mau tak mau perlu dibawa ke dokter.
Jadwal dan lama pemberian
Perhatikan pula jadwal pemberian obat; sesuaikan dengan yang tertera di brosur. Maksimal pemberian biasanya 4 kali sehari. Dengan demikian, jarak pemberiannya 6 jam. Jangan lupa, satu hari sama dengan 24 jam. "Namun sering orang tak menghitung seperti itu. Banyak yang menghitung satu hari hanya 12 jam hingga jadwal pemberian obat bila dibagi 4 hanya 3 jam sekali. Ini jelas salah," tutur Waldi. Apalagi bila obat hanya diberikan waktu siang, sedangkan malamnya tak diberi. Ini, kan, enggak efektif.
Lazimnya diperkenankan mencoba memberikan obat bebas selama 2-3 hari saja. Selebihnya, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan untuk memastikan apa penyakit dan pengobatannya. Tentu ada kasus yang tak perlu menunggu 2-3 hari dan dicoba-coba dengan obat, seperti bila si kecil muntah terus-menerus, kejang, atau tampak tak sadar.

Manjur Tidaknya Obat Dipengaruhi Sugesti

Kompas.com - Manjur tidaknya sebuah obat yang diminum ternyata ikut dipengaruhi oleh kekuatan pikiran. Jika kita yakin obat tertentu tidak berkhasiat mengatasi penyakit, maka hal itu bisa menjadi kenyataan. Sebaliknya, khasiat suatu obat bisa ditingkatkan jika kita bisa memanipulasi pikiran.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine membuktikan hal tersebut. Penelitian dilakukan terhadap 22 pasien sehat yang diberi rangsang nyeri berupa alat pemanas yang ditempel ke kulit kaki. Dalam skala 1-100, rata-rata pasien menilai nyeri tersebut memiliki skor 66.
Kemudian para pasien diberi obat pereda nyeri yang cukup kuat, yakni remifentanil, yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Namun para pasien tidak diberitahu jenis obatnya dan mereka menilai skor nyeri berkurang menjadi 55 setelah mendapatkan injeksi. Kemudian setelah diberi tahu yang disuntikkan adalah pereda sakit, skor nyeri kembali turun menjadi 39.
Selanjutnya, tanpa mengubah dosis, para peneliti memberitahu bahwa obatnya dihentikan. Serta merta skor nyeri mereka naik menjadi 64.
Dengan kata lain, meski pasien diberi obat remifentanil mereka tetap merasakan nyeri seperti halnya jika tidak diberi obat sama sekali.
"Obat pereda nyeri yang kami berikan padahal termasuk obat analgesik paling baik tapi efeknya bisa berkurang atau bisa dibilang dihilangkan karena pengaruh pikiran," kata profesor Irene Tracey dari Universitas Oxford yang melakukan riset ini.
Sugesti yang positif ternyata memengaruhi aktivitas otak di bagian yang berbeda dengan aktivitas yang berasal dari sugesti negatif. Hasil penelitian ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keakuratan studi klinis dalam menentukan efektivitas obat.
Para peneliti juga menyarankan pasien penyakit kronik yang sudah bertahun-tahun mengonsumsi obat untuk membuang sugesti-sugesti negatif demi kesembuhannya.

Mendambakan Obat Murah

Saya mengalami infeksi influenza yang cukup berat. Saya berobat ke salah seorang spesialis di kota saya. Saya terkejut karena biaya konsultasi tak terlalu mahal, hanya seratus ribu rupiah tetapi obatnya mencapai dua ratus ribu rupiah. Jadi, untuk biaya berobat penyakit yang relatif sederhana, saya harus mengeluarkan biaya tiga ratus ribu rupiah. Padahal, gaji saya hanya lima juta rupiah sebulan dan saya harus mengeluarkan biaya untuk keluarga saya, istri, dan dua anak saya.
Usia saya sekarang 36 tahun. Seingat saya, sewaktu kecil dulu harga obat tidaklah mahal. Saya dan saudara-saudara saya sering diajak berkonsultasi ke dokter, padahal ayah hanya seorang guru yang pendapatannya terbatas. Saya merasakan bahwa jika sakit, untuk berobat sekarang ini memerlukan biaya yang tinggi. Belum lagi jika dirawat di rumah sakit.
Kenapa biaya berobat semakin tinggi. Apakah karena biaya kuliah untuk menjadi dokter mahal? Ataukah karena ekonomi kita yang disebut sebagai ekonomi biaya tinggi? Saya tak tahu apakah dokter juga melindungi diri dengan asuransi karena sekarang banyak tuntutan pasien terhadap dokter, yang sudah tentu akan menyebabkan biaya berobat menjadi mahal.
Adakah cara agar kita bersama dapat menurunkan harga obat khususnya, dan biaya berobat pada umumnya? Saya berniat melindungi diri dengan asuransi kesehatan tetapi cukup banyak anggota masyarakat yang hidupnya sulit sehingga tak mampu masuk asuransi. Mohon pendapat dokter.
B di J Jawab
Biaya berobat memang semakin meningkat. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Banyak faktor penyebab, di antaranya penggunaan teknologi canggih, penemuan obat baru, dan juga sarana layanan kesehatan yang mewah. Sudah tentu biaya ekonomi tinggi juga akan berpengaruh pada biaya kesehatan.
Di kota-kota besar di Indonesia sudah mulai tampak kecenderungan defensive medicine, yaitu dokter berusaha melindungi tindakannya dengan melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium, penunjang, serta tindakan medis yang lengkap. Diharapkan, jika lengkap, hal ini akan dapat melindungi dokter apabila ada tuntutan. Dengan demikian akan banyak pemeriksaan yang sebenarnya tak perlu namun karena ketakutan dokter tetap dilakukan agar dokter tak dituduh lalai.
Memang benar kebiasaan menuntut dokter akan disikapi sebagian besar dokter dengan melindungi diri dengan asuransi profesi meski dokter yang membayar preminya sudah tentu tetap akan meningkatkan biaya berobat.
Jadi, barangkali sudah waktunya kita membina hubungan yang baik antara dokter dan pasien. Kita perlu meningkatkan komunikasi dokter dan pasien. Dokter perlu mempunyai empati, mendengarkan keluhan pasien dengan baik, tetapi pasien juga perlu mempunyai motivasi untuk sembuh serta percaya kepada dokter. Percaya bukan berarti pasien atau keluarga percaya saja semua perkataan dokter, tetapi percaya seperti kita memercayai sahabat kita. Kita percaya dokter berniat baik kalau ada yang tak jelas dapat kita komunikasikan.
Biaya mahal
Banyak cara untuk menurunkan biaya berobat. Cara yang paling baik adalah memelihara kesehatan dengan baik, melaksanakan gaya hidup sehat. Jika kita tidak sakit, tentu biaya kesehatan kita minimal.
Biaya kesehatan juga akan rendah jika kita lebih banyak memanfaatkan layanan kesehatan primer, puskesmas atau praktik umum dokter. Sebagian besar penyakit dapat diatasi di layanan kesehatan primer. Dalam kebijakan asuransi kesehatan di Thailand, misalnya, peserta harus memanfaatkan layanan kesehatan primer, ternyata lebih dari 70 persen masalah kesehatan dapat diatasi hanya sebagian kecil yang memerlukan rujukan ke dokter spesialis atau rumah sakit.
Kiat lain adalah menggunakan obat generik. Harga obat generik umumnya hanya sepersepuluh obat paten karena harga obat paten memperhitungkan biaya penelitian yang mahal itu. Jangan malu untuk minta obat generik kepada dokter Anda, permintaan itu merupakan hak pasien. Kita juga patut gembira karena sekarang juga ada kecenderungan baru, sebagian produsen obat paten mulai mencoba menyediakan harga obat yang terjangkau di negara yang sedang berkembang.
Suatu produsen obat paten terkenal bahkan pada tahun ini di Indonesia menurunkan harga obat produksinya rata-rata sebesar 50 persen. Masyarakat tentu menyambut baik kebijakan yang berpihak kepada masyarakat luas ini. Mudah-mudahan akan lebih banyak produsen obat paten menjalankan kebijakan serupa. Karena kita tahu belum semua obat paten dapat dibuat versi generiknya, jika masa patennya belum habis kita masih harus menunggu masa itu habis baru dapat membuat obat generik.
Jika dirawat di rumah sakit janganlah meminta kelas satu atau VIP. Karena pada umumnya di rumah sakit kelas satu atau VIP harus menyubsidi pasien yang dirawat di kelas tiga. Pilihlah rumah sakit yang mutu layanannya baik, belum tentu rumah sakit mewah layanannya bermutu.
Obat dan peralatan medis di Indonesia terkena pajak impor sehingga harganya jauh lebih mahal daripada Malaysia, misalnya. Malaysia tidak mengenakan bea masuk untuk obat dan peralatan kedokteran. Kita masih harus menunggu terwujudnya sistem pembiayaan kesehatan melalui jaminan sosial kesehatan, baik asuransi pemerintah, ABRI, perusahaan, maupun swasta.
Mudah-mudahan para pengambil keputusan dapat mewujudkannya dalam waktu yang tak terlalu lama. Jika jaminan tersebut dapat dilaksanakan di negeri kita, masyarakat tak perlu lagi jatuh miskin karena sakit. Masyarakat harus berupaya menjaga kesehatan, tetapi jika sakit dilindungi oleh asuransi yang sifatnya nasional.
Dr. Samsuridjal Djauzi

Ancaman Untuk Orang Modern "Gampang Lupa"

KOMPAS.com — Para ahli di Glasgow, Skotlandia, saat ini tengah melakukan  riset untuk mencari cara mengobati kondisi yang sering dialami masyarakat modern, yakni gampang lupa.
Ilmuwan dari CPS Research mengatakan, saat ini fenomena gampang lupa semakin menggejala di masyarakat. Hal ini merupakan dampak gaya hidup modern yang begitu sibuk dan serbacepat serta informasi terlalu berlebihan (information overload).  Kondisi ini dalam dunia medis disebut subjective cognitive impairment (SCI).
Menurut para ahli, riset yang dirancang ini diharapkan menemukan solusinya, termasuk menguji penggunaan obat Alzheimer, memantine, dalam dosis rendah.
Peneliti SCI menyatakan, penyakit gampang lupa dapat disebabkan gaya hidup hectic dan secara konstan dibombardir oleh informasi dari telepon seluler, Blackberry, televisi, radio, dan internet. Mereka menyebut kondisi ini dengan istilah busy lifestyle syndrome.
"Sifat lupa merupakan pertanda seseorang bertambah tua, tetapi bukti yang bersifat anekdot menyatakan kondisi ini juga menyerang kaum muda sebagai dampak kesibukan dalam bekerja dan hidup dengan membanjirnya informasi dari beragam saluran media yang kita ikuti setiap hari," ucap Dr Alan Wade, peneliti dari CPS Research.
"Apa yang kami teliti ini tidak perlu dipusingkan dengan hilangnya daya ingat yang kerap dihubungkan dengan kasus demensia secara dini. Studi ini ditujukan kepada mereka yang sering kehilangan kunci, lupa dengan nama seseorang, atau salah menempatkan gelas, dan tidak lebih serius dari hal itu," tuturnya.
Riset yang dilakukan CPS Research juga akan mengkaji penggunaan obat memantine secara luas yang  rutin diberikan kepada pengidap Alzheimer.  Diharapkan penggunaan dosis kecil obat ini dapat mengatasi SCI.

Kondisi Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Indonesia

Kondisi kesehatan dan gizi anak di Indonesia masih memprihatinkan. Pada tahun 2005 jumlah anak 0-6 tahun adalah 27, 6 juta anak atau sekitar 12, 79 persen dari total pendududk Indonesia. Hanya 25 persen yang terakses program peningkatan kesehatan, gizi dan PAUD. Selain cakupan yang masih rendah, program yang diselenggarakan itu masih terfragmentasi sehingga tidak menyentuh kebutuhan tumbuh kembang anak secara holistic. Rendahnya cakupan dan kualitas penyelenggaraan program pengembangan anak usia dini mengekibatkan kondisi anak Indonesia masih memprihatinkan yang ditunjukan dengan rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan.
Masalah kurang gizi pada anak dapat ditunjukan dari prevelensi yang berkaitan dengan kurang energi dan protein (gizi makro) dan gizi mikro (terutama kurang vitamin A, anemia, kurang yodium). Sampai dengan tahun 2000, keadaan gizi masyarakat menunjukan kemajuan yang cukup berarti, terlihat dari menurunnya secara prevelensi penderita masalah gizi utama (protein, karbohidrat) pada berbagai kelompok umur. Prevelensi anak balita kurang gizi pada tahun 1989-2000 menurun dari 37,5 persen menjdi 24,6 persen. Akan tetapi sejak tahun 2000 sampai dengan 2005 prevelensi kuang gizi anak pada balita meningkat kembali menjadi 28 persen yang sekitar 8,8 persen diantarannya menderita gizi buruk.

Rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan pada anak usia dini lebih banyak terjadi pada anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan yang tinggal di wilayah pedesaan, serta di wilayah dengan penyediaan layanan social dasar yang tidak memadai. Children in proverty face elevated risk for many theats for health (Flores dkk, 2005 dalam Santrock, 2007).
Memberikan pelayanan kesehatan tidak cukup untuk memperbaiki kesehatan mereka, tapi yang paling penting adalah memperbaiki kondisi keluarganya. Program perbaikan yang bisa dilakukan harus menyeluruh. Misalnya program yang di lakukan di Hawai, Amerika Serikat, yang menggulirkan The Hawaii Family Support/Health Start Program yang dimuali tahun 1998. Para staf dapam program ini mendatangi setiap keluarga yang diindekasikan di bawah garis kemiskinan, mereka menjadi konsultan keluarga dan membantu permasalahan mereka termasuk pengangguran yang kebanyakan merupakan penyebab utama permasalahan kesehatan.